Rabu, 08 Februari 2017

Mengenal Master Shotokan Pencetus Dojo-Kun
Tode Sakugawa (1733-1815)

Jangan sebut dirimu seorang “Karateka” jika tidak tahu apa itu Dojo-Kun (sumpah Karate). Dojo-kun biasanya selalu di bacakan setiap upacara Karate – baik itu sebelum memulai latihan ataupun ketika mengakhiri latihan. Dan sebagai seorang Karateka yang kita wajib paham mengenai Doju-kun dan juga dalam pengaplikasiannya tak hanya ketika latihan saja, melainkan di dalam setiap kehidupan kita sehari-hari.
Ada lima poin dalam Dojo-Kun, yaitu : [1]
1.      Sanggup memelihara kepribadian - Seek perfection of character (jinkaku kansei ni tsutomeru koto)
2.      Sanggup patuh pada kejujuran - Be faithful (makotono michi o mamoru koto)
3.      Sanggup mempertinggi prestasi – Endeavour (doryoku no seishin o yashinau koto)
4.      Sanggup menjaga sopan santun - Respect others (reigi o omonzuru koto)
5.      Sanggup menguasai diri - Refrain from violent behaviour (kekkino yu o imashimeru koto)
Tahukah kamu siapa master pencetus awal Dojo-Kun? Tode Sakugawa (1733-1815), dialah pencetus awal Dojo-Kun.  Sakugawa juga merupakan guru pertama di dalam silsilah Karate Shotokan yang berjasa dalam perkemabangan Karate seperti yang kita pelajari saat ini. Taknik beladirinya  berbeda dengan kita saat ini, yaitu berasal dari White Crane Chu’an fa, namun pemikirannya tentang mengajar seni bela diri sangat modern. [2]
Sakugawa lahir sekitar 40 tahun sebelum revolusi Amerika (Maret 1733). Ayahnya, setelah dihajar oleh sekelompok pemabuk, meninggal dengan pendarahan dalam. Saat itu Sakugawa masih berusia remaja (sekitar tahun 1750). Sebeum meninggal ayahnya memastikan sebuah janji kepada anaknya bahwa ia tidak akan pernah membiarkan dirinya menjadi korban dari kekerasan seperti yang dialami olehnya.
Setelah kepergian ayahnya, Sakugawa mencari orang yang ahli dalam bela diri. Ia menemukan seorang biksu, Peichin Takahara, yang ahli di dalam Tode. Takahara adalah seorang bangsawan Okinawa yang bekerja sebagai seorang pembuat peta di Istana Shuri. Ia menerima Sakugawa sebagai seorang muridnya. Sakugawa pun belajar bela diri di bawah didikan Takahara, Sakugawa adalah murid yang sangat antusias dan juga berbakat.
Kita mungkin berfikir bahwa para leluhur Karate kita adalah seorang yang memiliki sikap yang baik lagi bijaksana, namun bahkan seorang yang bijaksana sekalipun awalnya adalah seorang pemuda yang brutal dan bodoh. Pada saat itu Sakugawa yang berusia 23 tahun adalah seorang pemuda yang sangat berani dan berandal, dan suatu malam ia merencanakan untuk mendorong seorang yang tamu terkemuka di China ke sebuah sungai kecil dengan tujuan bersenang-senang akan hal tersebut. Namun, Kong Su Kung China dengan ilmu bela dirinya melemparkan meja ke arah pemuda berandalan tersebut. Sakugawa dipermalukan, dan dipaksa untuk berlutut dan meminta maaf. Dengan kebaikan dan kebijaksanaannya, Kong Su Kung mengundang Sakugawa untuk menjadi muridnya dan belajar “White Crane Chu’an Fa” dengannya. Dengan dukungan dari Takahara, Sakugawa menerima undangan tersebut. Pada waktu itu sistem White Crane adalas sebuah perkembangan baru, dan Takahara mungkin saja berharap untuk dapat mempelajarinya melalui muridnya tersebut. Sakugawapun mempelajari sistem tersebut selama kurang lebih enam tahun. Sementara ia berada di bawah didikan Kong Su Kung, Sakugawa diperkenalkan kepada dasar dari “hikite”, menarik tangan ke belakang (seperti yang diterapkan di dalam karate saat ini). Setelah belajar dari kesalahan yang ia perbuat dan juga setelah berada di bawah didikan Kong Su Kun, Sakugawa pun mejadi seorang yang lebih bijaksana. Sakugawa dinobatkan sebagai pencetus  “Dojo Kun”, aturan hidup bagi Karateka. Sakugawa juga terkenal di dalam lingkaran kobudo (sebuah sistem pertarungan tradisional di Okinawa yang menggunakan alat-alat berkebun sebagai senjata.
Pada usia tujuh puluh delapan tahun, Sakugawa dikenalkan dengan Sokon Matsumara, yang memiliki ambisi besar untuk menjadi petarung hebat di Okinawa. Ia ingin dididik oleh Sakugawa. Meskipun awalnya ia ragu untuk menerima murid baru, ia langsung kagum dengan semangat yang dimiliki oleh Sokon Matsumara tersebut dan memutuskan untuk memberinya sebuah kesempatan. Hal terpenting yang perlu diingat mengenai Sakagawa adalah bahwa ia menemukan sistem latihan dojo dan original Kushanku Kata (yang saat ini kita kenal dengan Kata Kanku Dai dan Kanku Sho), dan merupakan guru pertama Matsumara.
Tode Sakugawa meninggal pada 17 Agustus 1815, di usianya yang ke-82 setelah melatih Matsumura selama empat tahun. (M.Y)




[1] School of Martial Arts. Shotokan Karate-Do Student Mannual. Karate Ontario. Canada.
[2] Dixon, Jon. ISKF Karate Book. 2014 . Canada

Selasa, 19 April 2016